Sabtu, 07 Maret 2020

ayah cium dan main

Maret 07, 2020 0 Comments
CIUM dan MAIN
@salimafillah
.
“Ya Rasulallah, apakah kau mencium anak-anak kecil itu dan bercanda bersama mereka?”, tanya 'Uyainah ibn Hishn Al Fazari, ketika menghadap beliau yang sedang direriung oleh cucu-cucu Baginda.
.
“Mereka adalah wewangian surga, yang Allah karuniakan pada kita di dunia”, jawab beliau ﷺ sembari tersenyum.
.
“Adalah aku”, sahut sang pemimpin Fazarah, “Memiliki sepuluh anak. Dan tak satupun di antara mereka pernah kucium.”
.
“Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmatNya dari hatimu? Barangsiapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”
.
Hari ini ketika para orangtua mengeluhkan bahwa putra-putrinya lebih akrab dengan gawai informatika, tercandu permainan daring, dan terbebat media sosial; barangkali harus segera kita perjuangkan agar diri kita kembali lebih asyik untuk disentuh-sentuh dan dipencet-pencet dibanding gadget.
.
Betapa Nabi ﷺ membuat takjub Abu Hurairah ketika sepulang dari perjalanan jihad, Al Hasan dan Al Husain telah menjadikan beliau kuda-kudaannya, dipacu berkeliling ruangan dengan asyiknya. "Aduh Nak", ujar sang perawi akbar, "Yang kalian kendarai ini adalah tunggangan termulia di langit dan bumi."
.
Beliau ﷺ tersenyum membalas, "Dan para penunggangnya adalah penghulu para pemuda di dunia dan di surga."
.
Para ayah, tawarkan pada anak kita taman bermain lengkap di rumah kita, dari badan kita. Tawarkan ayunan dari kedua lengan yang ditautkan jemarinya untuk mereka duduk  sambil  kitapun menunduk dan mengayunnya maju mundur. Tawarkan komidi putar dengan merentang lengan kanan, persilakan mereka duduk di pergelangannya, lalu pegangi dengan tangan kiri, angkat dan ayunkan naik turun sambil kita terus berputar. Tawarkan jungkat-jungkit dengan menyuruhnya duduk di ujung kaki saat kita bertumpu pada kursi, lalu angkat dan turunkan berulang-ulang. Tawarkan perosotan dengan berbaring 45 derajat di sofa mengenakan kaos serta sarung licin lalu persilakan mereka meluncur dari dada kita.
____
Di sela mengoreksi #sangpangerandanjanissaryterakhir yang tergeletak di sudut kiri. #semuabacasangpangeran bersama Jaisyan dan Labib. Kontak @proumedia via WA (+62823-2737-6000) untuk bukunya. #sangpangeran #diponegoro

https://www.instagram.com/p/B7inrA4BCK5

Kamis, 05 Maret 2020

Maret 05, 2020 0 Comments
SUAMI ADALAH PENANGGUNG JAWAB KEHIDUPAN KELUARGA

by. Cahyadi Takariawan

Menurut Ustadz Ahmad Sarwat Lc. MA, pengasuh Rumah Fiqih, dalam urusan kerumahtanggaan, tugas istri adalah membuka mulut untuk disuapi makanan oleh suami.

Berikut penjelasan beliau:

Pada dasarnya suami memang berkewajiban memberi nafkah kepada isterinya.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka telah memberi nafkah sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa': 34).
.
Nafkah adalah segala yang dibutuhkan oleh seorang manusia, baik bersifat materi maupun bersifat ruhani.

Dari segi materi, umumnya nafkah itu terdiri dari makanan, pakaian dan tempat tinggal. Maka seorang isteri berhak untuk mendapatkan nafkah itu dengan tanpa harus ada kewajiban untuk mengolah, mengelola atau mengurusnya.

Jadi sederhananya, posisi isteri hanya tinggal buka mulut dan suami yang berkewajiban menyuapi makanan ke mulut isterinya.

Tidak ada kewajiban isteri untuk belanja bahan mentah, memasak dan mengolah hingga menghidangkannya. Semua itu pada dasarnya kewajiban asasi seorang suami.

Seandainya suami tidak mampu melakukannya sendiri, tetap saja pada dasarnya tidak ada kewajiban bagi isteri untuk melaksanakannya. Bahkan kalau pun suami harus menyewa pembantu atau pelayan untuk mengurus makan dan urusan dapur.

Bahkan memberi nafkah kepada anak juga bukan kewajiban isteri. Suami itulah yang punya kewajiban untuk memberi nafkah kepada anak-anaknya.

Termasuk memberinya air susu ibu, bukan kewajiban isteri tetapi kewajiban itu pada dasarnya ada pada suami. Kalau perlu, suami mengeluarkan upah kepada isterinya untuk menyusui anaknya sendiri.

Demikian penjelasan Ustadz Ahmad Sarwat Lc. MA, pengasuh Rumah Fiqih.

Waw. Betapa bahagia para istri jika suami mereka berlaku memuliakan istrinya

Dipersembahkan oleh Rumah Keluarga Indonesia, Pekanbaru

NASIHAT IMAM AL GHAZALI UNTUK PARA SUAMI

By. Cahyadi Takariawan

Para suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya secara layak dan tidak bersifat kikir. 

Memberi nafkah kepada istri dan anak adalah suatu kewajiban untuk seorang suami dalam syariat Islam. Maka memberi nafkah kepada keluarga adalah lebih didahulukan daripada bersedekah kepada orang lain. 

Nabi Muhammad Saw. bersabda ; “Andaikan seorang laki-laki memberikan satu dinar untuk berjihad, satu dinar untuk membebaskn budak dan satu dinar untuk bersedekah, serta memberikan satu dinar untuk nafkah istrinya. Niscaya pahala yang terakhir ini mengungguli pahala ketiga amalan diatasnya.”

Yang terpenting dari memberi nafkah ialah memberikan harta yang halal untuk keluarganya.

Nafkah yang halal akan memberikan ketenangan dan kedamaian, sedangkan nafkah dari yang haram akan menghasilan kegelisanan dan keruwetan dalam keluarganya. Mencari nafkah yang halal pahalanya menyamai pahala berjihad di jalan Allah Swt.

Imam Al Ghazali, Kimia Kebahagiaan
Dipersembahkan oleh Rumah Keluarga Indonesia, Pekanbaru

optimalisasi peran ibu

Maret 05, 2020 0 Comments
Optimalisasi peran Ibu

oleh : Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I

Tanggal 22 Desember, hari yang bagi bangsa Indonesia diperingati sebagai hari Ibu. 
Masyarakat memperingatinya dengan berbagai macam acara, yang intinya ingin memberikan kebahagiaan dan memuliakan seorang ibu. 
Meski, tentu saja, kewajiban membahagiakan dan memuliakan ibu bukan hanya dilakukan satu hari saja pada hari tersebut, tetapi sepanjang masa, sepanjang ruh masih ada di dalam jasad ini. 
Kewajiban yang dengannya Allah menjanjikan surga. Namun demikian patut kita syukuri, bahwa di hari tersebut paling tidak kita diingatkan kembali, akan posisi penting dan peran besar yang telah diperankan oleh sosok “Ibu”. Sehingga rutinitas di berbagai macam tugas yang sering membuat lupa tentang “Ibu”, disegarkan kembali.


Peran dan posisi seorang ibu, adalah peran yang sangat strategis, peran yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun, dalam membangun umat dan peradaban. Sebuah syair yang mencoba merangkum dan mewakili makna tersebut di antaranya “Al ummu madrasatun” Ibu adalah sekolah. Sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas, dengan segala macam sistem dan SDM yang mendukungnya, akan berhasil mencetak para pemimpin yang handal dan tangguh. Demikian juga dengan sosok Ibu. Dari hati, jiwa, perasaan, pikiran dan tangannya yang penuh ketulusan dan kasih sayang, berhasil mencetak manusia-manusia pilihan yang menjadi pemimpin di segala medan kehidupan. Tengoklah kembali perjalanan sejarah para pendahulu kita, generasi terbaik, yang harus kita jadikan tauladan. Beberapa peran yang telah secara optimal dimainkan oleh para ibu berikut ini, semoga menginspirasi kita untuk terus berikhtiar menjadi Ibu dengan segala peran pentingnya.

1. Mempersiapkan anak menjadi pemimpin, 
seperti telah dilakukan oleh Aminah, ibunda Rasulullah saw. Meski usianya tidak panjang, hanya sampai usia 6 tahun Rasulullah dididik oleh beliau, tapi Aminah telah melakukan banyak hal, yang menjadi bekal penting bagi jiwa kepemimpinan Rasulullah saw di masa mendatang. Peran yang dimaksud antara lain, beliau telah memilihkan sekolah terbaik bagi anaknya, Rasulullah saw, agar memiliki kemampuan bahasa yang hebat, dengan cara menyekolahkannya di “Sekolah Halimatus sa’diyah”. Masyarakat pedalaman dengan suasana asri, memungkinkan Rasulullah kecil untuk belajar bahasa yang fasih dan santun. Di sini juga, Rasul saw belajar dan menempa diri dengan sifat-sifat kepemimpinan, melalui aktivitas menggembalakan kambing, karena keluarga Halimah memiliki banyak ternak kambing. Dari sisi jasad, suasana yang masih sejuk pun turut mendukung kesehatan Rasulullah saw menjadi prima. Demikianlah, hal ini semua, karena kepiawaian Aminah ibunda Rasulullah saw dalam mengambil keputusan dan memilihkan “sekolah” terbaik bagi anaknya.

2. Memompa semangat anak untuk pergi berjuang, 
seperti telah diperankan oleh “Khansa”, ibunda para mujahid, yang syahid di perang Qadisiyah. Sejarah telah mencatat, Khansa telah membakar semangat ke lima (sebagian menulis ke empat) anaknya untuk meraih syahid. “Wahai anak-anakku, Allah telah menyiapkan pahala yang besar bagi mereka yang berjihad di jalanNYA melawan kaum kuffar, ketahuilah, negeri akhirat jauh lebih baik dan lebih kekal dari dunia fana ini” Dan benar saja, setelah di motivasi dan tentunya sejak kecil telah dididik dengan kasih sayang, semua anak-anaknya pergi ke medan jihad dan semuanya menjadi syuhada. Yang lebih menakjubkan adalah kalimat yang kemudian diucapkan oleh ibunda khansa setelah mendapat kabar kesyahidan anak-anaknya. “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memuliakan aku dengan menjadikan anak-anakku sebagai syuhada.

3. Menghidupkan ekonomi keluarga, sehingga keberkahan dan kebahagiaan melingkupi seluruh keluarga, seperti telah diperankan oleh Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah saw. Dengan semangat dan niat ta’awun (saling membantu) dan mendukung perjuangannya suaminya (Rasulullah saw), Khadijah telah berhasil membangun perekonomian yang berkah melalui perdagangan, dengan tetap optimal mendidik anak-anaknya sehingga tumbuh menjadi pribadi yang kokoh, seperti Fatimatuzzahra, putri kesayangan Rasulullah saw, sekaligus istri Ali bin Abi Thalib, yang senantiasa sabar mendampingi Ali RA, dalam segala keterbatasan ekonominya. Khadijah pun, dalam segala kesibukan aktivitasnya berdagang dan mendidik anaknya, mampu menjalankan peran sebagai istri yang selalu menyejukkan hati suami. Pilihan yang cerdas, meraih keberkahan ekonomi keluarga, melalui perdagangan, yang lebih memungkinkan untuk bisa optimal mendidik keluarganya.

4. Mendidik masyarakatnya, menjadi masyarakat yang cerdas dan berwawasan luas, 
seperti telah diperankan oleh Aisyah RA, istri Rasulullah saw, sepeninggal Khadijah binti Khuwailid. Allah karuniakan Aisyah RA akal pikiran yang sangat cerdas, beliau mampu menghafal hadits dalam jumlah ribuan. Beliau juga yang menjadi rujukan dan tempat bertanya segala hal para sahabat dan shahabiah, sepeninggal Rasulullah saw. Aisyah telah memberikan contoh bagi kaum ibu, dan bagi kita semua, untuk terus meningkatkan kapasitas diri menjadi mukmin yang berilmu, di mana Allah telah mengangkat tinggi derajat mukmin yang berilmu pengetahuan (yarfa’illahu ladzina aamanu minkum, walladziina uutul ilma darojat, QS al Mujadilah 11).

5. Amar ma’ruf nahi munkar, berani mengingatkan, meski terhadap pemimpin. Hal ini seperti pernah dilakukan oleh Khaulah binti tsa’labah, ketika suatu kali memberikan nasihat kepada Umar bin Khattab, yang saat itu menjadi Khalifah. Saat para sahabatnya ingin menghentikan nasihat Khaulah, Umar menjawab. “Biarkan Khaulah melanjutkan bicara, dialah seorang perempuan yang telah didengar aduannya oleh Allah Swt (surat mujadilah), maka seorang Umar tentu lebih wajib untuk mendengar nasihat/perkataannya. Andaikan Khaulah tidak berhenti bicara sampai pagi, maka aku akan tetap mendengarkannya, sampai khaulah yang menghentikannya, kecuali jika datang panggilan shalat, maka aku akan menunaikan shalat dahulu, kemudian aku akan kembali mendengarkan perkataan Haulah”. Demikianlah, Khaulah sebagai orang ibu bagi anak-anaknya, sekaligus Khaulah mampu memerankan fungsi sebagai anggota masyarakat yang berani mengingatkan “pemimpin”.

Demikianlah, sejarah telah mengajarkan kita untuk mengambil peran. Tantangan untuk kita semua, untuk kaum ibu, agar bisa meraih kemuliaan di sisi Allah dengan peran-peran pentingnya. SELAMAT HARI IBU. SEMOGA KITA LAYAK MENDAPAT SYURGA. Wallahu a’lam bishawwab.

Sumber: dakwatuna
 Dipersembahkan oleh Rumah keluarga Indonesia, pekanbaru